Jumat, 05 Oktober 2012

landasan pendidikan


1. Pendidikan dalam Arti Luas
Dalam arti luas, hidup adalah pendidikan, dan pendidikan adalah
hidup  (life is education, and education is life). Maksudnya bahwa
pendidikan adalah segala pengalaman hidup (belajar) dalam
berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan
berpengaruh positif bagi pertumbuhan atau perkembangan individu.

Dalam arti luas, pendidikan memiliki karakteristik sebagai berikut:
Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup individu,  tidak
ditentukan oleh orang lain,
Pendidikan berlangsung kapan pun, artinya berlangsung
sepanjang hayat  (life long education). Karena itu pendidikan
berlangsung  dalam konteks hubungan individu yang bersifat
multi dimensi, baik dalam hubungan individu dengan Tuhannya,
sesama manusia, alam,  bahkan dengan dirinya sendiri.
Dalam hubungan yang besifat multi dimensi itu, pendidikan
berlangsung melalui berbagai bentuk kegiatan, tindakan, dan
kejadian, baik yang pada awalnya disengaja untuk pendidikan
maupun yang tidak disengaja untuk pendidikan.
Pendidikan berlangsung bagi siapa pun. Setiap individu  – anakanak atau pun orang dewasa, siswa/mahasiswa atau pun bukan
siswa/mahasiswa – dididik atau mendidik diri.
Pendidikan berlangsung dimana pun. Pendidikan tidak terbatas
pada schooling saja. Pendidikan berlangsung di dalam keluarga,
sekolah,  masyarakat, dan di dalam lingkungan alam dimana
individu berada.
Pendidik  bagi individu tidak terbatas pada pendidik profesional.

2. Pendidikan dalam Arti Sempit
Dalam arti sempit, pendidikan dalam prakteknya identik dengan
persekolahan (schooling), yaitu pengajaran formal di bawah kondisikondisi yang terkontrol.

Dalam arti sempit, pendidikan memiliki karakteristik sebagai berikut:
Tujuan pendidikan dalam arti sempit ditentukan oleh pihak luar
individu peserta didik. Sebagaimana kita maklumi, tujuan
pendidikan   suatu sekolah atau tujuan pendidikan suatu kegiatan
belajar-mengajar  di sekolah tidak dirumuskan dan ditetapkan
oleh para siswanya.
Lamanya waktu pendidikan bagi setiap individu dalam
masyarakat cukup bervariasi, mungkin kurang atau sama dengan
enam tahun, sembilan tahun bahkan lebih dari itu. Namun
demikian terdapat titik terminal pendidikan yang ditetapkan dalam
satuan waktu.
Pendidikan dilaksanakan di sekolah atau di dalam lingkungan
khusus yang diciptakan  secara sengaja untuk pendidikan dalam
konteks program pendidikan sekolah.
Dalam pengertian sempit, pendidikan hanyalah bagi mereka
yang menjadi peserta didik (siswa/mahasiswa) dari suatu
lembaga pendidikan formal (sekolah/perguruan tinggi).
Pendidikan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan belajarmengajar yang terprogram dan bersifat formal atau disengaja
untuk pendidikan dan terkontrol.
Dalam pengertian sempit, pendidik bagi para siswa terbatas
pada pendidik profesional atau guru.

Manusia dan Pendidikan
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Wujud sifat hakikat manusia mencakup: kemampuan menyadari diri, kemampuan bereksistensi, pemilikan kata hati, moral, kemampuan bertanggung jawab, rasa kebebasan (kemerdekaan), kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak, kemampuan menghayati kebahagiaan. Sedangkan dimensi-dimensinya meliputi: dimensi keindividualan, kesosialan, kesusilaan, dan keberagamaan.
Sifat hakikat manusia dan segenap dimensinya hanya dimiliki manusia dan tidak terdapat pada hewan. Ciri-ciri yang khas tersebut membedakan secara prinsipil dunia hewan dari dunia manusia.
Adanya sifat hakikat tersebut memberikan tempat kedudukan pada manusia sedemikian rupa sehingga derajatnya lebih tinggi daripada hewan dan sekaligus menguasai hewan, terutama kemampuan menghayati kebahagiaan pada manusia.
Korelasi antara manusia dan pendidikan dapat terlihat pada pernyataan: semua sifat hakikat manusia dapat dan harus ditumbuhkembangkan melalui pendidikan dan berkat pendidikan, maka sifat hakikat dapat ditumbuhkembangkan secara selaras dan berimbang sehingga menjadi manusia yang utuh.
Pengertian dan Unsur-Unsur Pendidikan
Pengertian pendidikan dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu:
a.       Pendidikan sebagai proses transformasi budaya; pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi lain.
b.      Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi; pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik.
c.       Pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara; pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.
d.      Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja; pendidikan diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja.
Adapun tujuan pendidikan adalah memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.
Landasan dan Asas-Asas Pendidikan serta Penerapannya
Landasan pendidikan mencakup:
1.      Landasan filosofis, yaitu landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat (falsafat, falsafah).
2.      Landasan sosiologis, yaitu memandang kegiatan pendidikan sebagai proses interaksi antara dua individu.
3.      Landasan kultural, yaitu memandang pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedang setiap manusia selalu menjadi anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu.
4.      Landasan Psikologis, yaitu memandang pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia.
5.      Landasan ilmiah dan teknologis, yaitu memandang iptek menjadi bagian utama dalam isi pengajaran; dengan kata lain, pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek.
Asas-asas pokok pendidikan meliputi:
1.      Asas Tut Wuri Handayani. Asas ini dilengkapi  dengan dua semboyan, yaitu:
Ing ngarsa sung tulada (jika di depan, menjadi contoh),
Ing madya mangun karsa (jika di tengah-tengah, membangkitkan kehendak, hasrat atau motivasi),
Sedangkan Tut Wuri Handayani sendiri berarti jika di belakang, mengikuti dengan awas.
2.      Asas belajar sepanjang hayat, meliputi:
Dimensi vertikal, yakni kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan, dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
Dimensi horizontal, yakni kurikulum sekolah meliputi keterkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.
3.      Asas kemandirian dalam belajar.
Perkiraan dan Antisipasi terhadap Masa Depan
Perkiraan masyarakat masa depan dapat terlihat pada karakteristik berikut:
1.      Kecenderungan globalisasi yang semakin kuat
2.      Perkembangan iptek yang makin cepat
3.      Perkembangan arus informasi yang semakin padat dan cepat
4.      Kebutuhan/tuntutan peningkatan layanan profesional dalam berbagai kehidupan manusia.
Upaya pendidikan dalam mengantisipasi masa depan:
a.       Perubahan nilai dan sikap
b.      Pengembangan kebudayaan
c.       Pengembangan sarana pendidikan
Pengertian, Fungsi dan Jenis Lingkungan Pendidikan
Latar tempat berlangsungnya pendidikan itu disebut lingkungan pendidikan, khususnya pada tiga lingkungan utama pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat (Umar Tirtaraharja et. al., 1990: 39-40). Istilah lain dari lingkungan pendidikan ini adalah: keluarga disebut informal, sekolah disebut formal dan masyarakat disebut nonformal.
Pengertian lingkungan pendidikan di atas berkesesuaian dengan pengertian pendidikan sendiri yang berarti suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai pihak, khususnya keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai lingkungan pendidikan yang dikenal sebagai tripusat pendidikan.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial, budaya), utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal.
Aliran-Aliran Pendidikan
Beberapa aliran pendidikan dan penjelasannya adalah sebagai berikut:
1.      Aliran klasik dan gerakan baru dalam pendidikan, meliputi:
a.     Aliran empirisme: menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan.
b.    Aliran Nativisme: menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak.
c.     Aliran Naturalism: pendidikan tidak diperlukan, yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan itu.
d.    Aliran Konvergensi: proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting.
e.     Gerakan baru, meliputi: pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, pengajaran proyek, dan sebagainya.
2.      Dua aliran pokok pendidikan di Indonesia, yakni:
a.     Perguruan kebangsaan taman siswa
Tujuh asas dari taman siswa, yaitu:
1)      Setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat terbitnya persatuan dalam perikehidupan umum.
2)      Pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekan diri.
3)      Pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
4)      Pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.
5)      Untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuhnya lahir maupun batin hendaknya diusahakan dengan kekuatan sendiri, dan menolak bantuan apa pun dan dari siapa pun yang mengikat, baik berupa ikatan lahir maupun ikatan batin.
6)      Sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan.
7)      Dalam mendidik anak-anak perlu adanya keikhlasan lahir dan batin untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak.
b.    Ruang pendidik INS (Indonesia Nederlandsche School) Kayu Tanam
Enam dari dari 29 asas pendidikan INS, yaitu: ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, kesusilaan, kerakyatan, kebangsaan, gabungan antara pendidikan ilmu umum dan kejuruan.
Permasalahan Pendidikan
Jenis permasalahan pokok pendidikan meliputi: masalah pemerataan pendidikan, masalah mutu pendidikan, masalah efisiensi pendidikan, masalah relevansi pendidikan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu: perkembangan iptek dan seni, laju pertumbuhan penduduk, aspirasi masyarakat, dan keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan.
Dua masalah yang dihadapi dunia pendidikan sangat luas dan kompleks, yakni:Pertama, karena sifat sasarannya yaitu manusia merupakan makhluk misteri yang mengundang banyak teka-teki. Kedua, karena pendidikan harus mengantisipasi hari depan yang juga mengundang banyak pertanyaan. Oleh karena itu, agar masalah-masalah pendidikan dapat dipecahkan, maka diperlukan rumusan tentang masalah-masalah pendidikan yang bersifat pokok yang dapat dijadikan acuan bagi pemecahan masalah-masalah praktis yang timbul dalam praktek pendidikan di lapangan.

Kedudukan Manusia dan Pendidikan
Hubungan antara pendidikan dan masyarakat terasa penting sekali sehingga merupakan bidang studi tersendriri di dalam Ilu Pendidikan. Hal itu tak lain merupakan akibat logis adanya pengembangan tujuan pendidikan bagi setiap orang untuk membentuk dirinya menjadi pribadi yang utuh baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat yang sehat jasmani dan rohaninya, berilmu pengetahuan dan bermoral. Cara yang ditempuh adalah dengan memenuhi berbagai kebutuhan minat para anak didik serta mempersiapkan mereka agar kelak menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat. Cara lain yang ditempuh yaitu dengan jalan mengaitkan mata pelajaran di sekolah dengan kebutuhan dan persoalan kehidupan masyarakat untuk mencari alternatif bagi penyelesaian persoalan-persoalan sosial yang timbul.
Agar manusia itu dapat hidup dengan baik di dalam masyarakatnya,  sesuatu yang dapat menolong kesuksesan bersama di masyarakat tersebut yakni kehidupannya sesuai dengan lembaga-lembaga sosial yang memiliki bentuk, organisasi dan tujuan-tujuan yang sama. Kemudian orang tersebut, harus mengerjakan pekerjaannya bersama-sama anggota masyarakat dengan kemampuan dan tindakan yang positif. Dengan demikian, akan merasa menentu dan kokoh dalam hidup dan kehidupannya. Sebab dengan sikap demikian, akan menjadi senang dengan berbagai sistem dan tradisi-tradisi masyarakat yang ada maupun dengan berbagai sistem sosial, ekonomi, politik, hukum, yang satu sama lain berkaitan, sedangkan secara keseluruhan berkaitan juga dengan aneka ragam tingkah laku, pola berfikir dan berbagai aspirasi yang ditemukan oleh anggota masyarakat.
Semua sistem dan tradisi tersebut, ditemukan sebagai sesuatu tugas dan kewajiban bagi anggota masyarakat. Dan lazimnya manusia itu baru dapat melakukan sesuatu dengan adanya bimbingan mengenai peraturan dan pemeliharaan berbagai fasilitas dari seluruh anggota masyarakat.
Oleh karena itulah, muncul nya berbagai organisasi dan peraturan-peraturan itu untuk memelihara berbagai sistem sosial dan perkembangannya. Maka keluarga dan sekolah itu, tak lain merupakan dua dasar pokok dalam kehidupan kemasyarakatan yang mengasuh putra-putri dengan pendidikan dan pengajaran untuk mengarahkan tingkah laku dan pekerjaan mereka dengan berbagai tujuan yang disenanginya. Hal itu juga dimaksudkan untuk membentuk anggota masyarakat yang baik dan berguna. Sebab, mereka akan bekerja untuk mewujudkan tujuan-tujuan masyarakat yang cukup luas, baik maslah ekonomi, politik, kebudayaan, kemasyarakatan dan tujuan-tujuan lainnya.
Sebenarnya kita akan menjumpai, bahwa sistem pendidikan di sekolah itu berkaitan erat dengan berbagai sistem ekonomi, politik dan lain sebagainya dalam rangka membina dan mengembangkan masyarakat yang memiliki sistem yang lengkap dan menjadi tumpuan dari seluruh sistem lainnya maupun tujuan masyarakat itu sendiri. Maka, sebenarnya pola dan bentuk pendidikan yang berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain itu, tak lain adanya perbedaan bentuk/ sistem yang lengkap masyarakat tersebut maupun karena perbedaan tujuan dan berbagai sarana yang dipakai untuk mewujudkan tujuan tadi. Sebab pendidikan dalam kenyataan yang semacam ini adalah merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk anggota masyarakat yang berguna bagi masyarakatnya. Dengan kata lain dapat dikatakan, bahwa pendidikan itu sebenarnya merupakan bagian daribentuk budaya/ kebudayaan umum suatu masyarakat.
Sekalipun terdapat perbedaan mengenai tujuan umum pendidikan, hanyalah berbeda dalam hal sistem politik dan sistem lainnya, baik di dalam tujuan-tujuan khusus kelancaran pendidikan, sistem pendidikan, metode pengajaran maupun sarana-sarana atau fasilitasnya.
Sesuatu yang menghalangi adanya hubungan pendidikan dengan sistem politik itu, juga akan menghalangi sistem dan pola hidup masyarakat. Sebab, sejumlah masyarakat yang terdapat di dalamnya dapat dibedakan menjadi beberapa kelas dengan berbagai kelas lainnya yang memiliki suatu pola dan sistem pendidikan putra-putrinya dengan aneka ragam bentuk dan pola pendidikan juga.
Dengan keberhasilannya, suatu masyarakat akan menjadi media pendidikan yang akan mempengaruhi anggotanya, baik dalam hal tingkah laku, kemauan maupun pola berfikirnya. Masyarakat akan mempergunakan pendidikan itu sebagai sarana untuk mewujudkan berbagai aspirasi anggtota masyarakat, sesuai dengan tujuan, kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya.
Dalam pembatasan arti/ pengertian ini, masyarakat itu pada dasarnya bekerja hanyalah untuk menundukkan lingkungan dan menguasainya. Maka tatkala bertambah dalam arti berkembang pengertian tersebut akan menjadi bertambah luas pulalah arti pendidikan dengan seperangkat tanggung jawab yang dibebankan oleh masyarakat itu. Begitu pula, apabila hubungan dan pengaruh timbal balik antara pendidikan dan lingkungannya itu lebih erat dan mendalam, maka dapatlah mewujudkan tujuan-tujuan masyarakat itu dengan cara yang lebih mudah namun terdapat dampak yang lebih besar.
Selanjutnya, apabila pendidikan  masyarakat itu mementingkan pengaruh seseorang di dalam masyarakat maupun lingkungannya, baik dalam hal ini dari anggota masyarakat sendiri, kelompok-kelompok sosial, lembaga-lembaga, organisasi-organisasi, tingkah laku dan berbagai tujuan lain, maka pendidikan tersebut jelas merupakan alat penentu dan pemberi arah dalam berbagai perubahan yang terjadi, baik kelompok yang terdapat di dalam masyarakat.
Sebab, pendidikan itu dengan pengertiannya yang baru adalah merupakan  suatu proses belajar mengajar yang berkesinambungan dan integral. Oleh karena itu, pendidikan haruslah merupakan proses belajar mengajar yang bertujuan untuk mengarahkan dan mengembangkan berbagai tujuan hidup anggota masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa pendidikan itu adalah merupakan suatu alat penyelamat dan pemberi arah mengenai perkembangan orang seorang maupun kelompok-kelompok sosial secara berkesinambungan.
Maka pendidikan itu senantiasa berubah dan berkembang sesuai dengan setiap perkembangan yang dituju oleh masyarakat. Demikian juga, pendidikan yang terdapat pada masyarakat-masyarakat tradisional. Adpun pendidikan masa sekarang yang cukup komplek berbagai sistem dan tuntunan maupun tujuannya itu, juga berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat.
Perkembangan pendidikan itu sendiri merupakan sesuatu segi kekuatan di dalam melaksanakan proses pendidikan. Alasannya, karena sebenarnya pendidikan itu bertanggung jawab penuh mengenai perikehidupan anggota masyarakat, sejak awal hingga akhir hayatnya, baik dalam hal etika/ moral, kejiwaan, pelaksanaan ilmu pengetahuan mereka dan berbagai kemahiran atau ketrampilan/ kejuruan lainnya yang senantiasa berkembang. Akan tetapi, harus disertai upaya dengan tekun untuk menghadapi gejala apapun yang akan melemahkan sistem sosial bagi berbagai masyarakat yang akhirnya juga akan menghalangi pendidikan untuk merealisir berbagai tujuannya dalam rangka mengikuti dan memnuhi aneka ragam tuntutan hidup masyarakat.
Begitu pula, pendidikan itu bertanggung jawab mengenai pengenalan anggota masyarakat terhadap berbagai kelemahan bagai saran pemecahannya dalam rangka menghadapi berbagai tuntutan yang senantiasa berubah dan berkembang serta pengembangannya untuk mewujudkan berbagai tuntutan kehidupan.
Maka seakan-akan sistem pendidikan dan ketentuan/aturan berbagai kebutuhan dan tuntutannya itu akan mempengaruhi masyarakat dan menentukan sistem ekonomi dan politiknya. Dan tatkala sistem pendidikan itu merupakan bagian  dari berbagai sistem sosial yang ada, maka dikala  mengkaji hubungan suatu sistem pendidikan dengan sistem masyaraka